Kalau Si Ahli Tidak Ada, Apakah Tim Tetap Jalan?

Kalau Si Ahli Tidak Ada, Apakah Tim Tetap Jalan?

Saya pernah menampilkan sebuah gambar di depan rekan-rekan PNM (Permodalan Nasional Madani). Seorang pria terbaring di ranjang rumah sakit. Infus masih terpasang, monitor masih menyala di sampingnya. Tapi pandangannya tidak ke perawat, tidak juga ke jendela. Matanya menempel ke laptop di pangkuannya.

Saya yakin Anda pernah mengenal orang seperti itu. Mungkin rekan Anda. Mungkin atasan Anda. Atau jangan-jangan, Anda sendiri.

Dia bukan orang malas. Justru sebaliknya: dia orang paling ahli di timnya. Masalahnya, dia satu-satunya. Begitu dia sakit, pekerjaan berhenti. Begitu dia cuti, telepon tetap berdering. Pertanyaan yang saya ajukan pagi itu, 9 Oktober 2026, sederhana saja: kalau si ahli tidak ada, apakah tim tetap jalan?

Tulisan ini untuk Anda yang memimpin tim, yang menjadi andalan tim, atau yang baru bergabung dan ingin cepat bisa. Setelah membacanya, Anda punya satu tes sederhana untuk mengukur tim, tiga langkah untuk menyebarkan keahlian, lima pertanyaan serah terima, dan cara membina rekan tanpa harus menyuruh.

Saya susun cerita ini dalam urutan berikut.

Menjadi Ahli Tidak Salah, yang Bermasalah Menjadi Satu-satunya

Saya ingin meluruskan satu hal dulu. Saya tidak sedang menyalahkan orang yang ahli. Tim memang butuh orang yang paham betul pekerjaannya. Orang yang hafal semua kelompok nasabah, tahu siapa yang bisa dihubungi, tahu di mana berkas lama disimpan.

Menjadi ahli tidak salah. Yang masalah: menjadi satu-satunya ahli.

Ketika keahlian hanya ada di satu orang, kerugiannya menyebar ke mana-mana. Saya biasa memetakannya menjadi empat.

Pertama, anggota yang belum ahli dirugikan. Setiap kali ada pekerjaan sulit, pekerjaan itu langsung dilempar ke si ahli. Akibatnya, yang lain tidak pernah mencoba. Tidak pernah salah, tapi juga tidak pernah belajar.

Kedua, si ahli sendiri dirugikan. Ini yang sering dilupakan. Semua pertanyaan lari kepadanya. Dia tidak bisa sakit dengan tenang, tidak bisa cuti dengan tenang. Lama-lama yang muncul bukan bangga, tapi lelah. Gambar pria di ranjang rumah sakit tadi adalah potretnya.

Ketiga, ilmu terkunci di satu kepala. Cara menangani kelompok yang sulit, nomor ketua kelompok yang bisa diandalkan, kebiasaan nasabah tertentu: semuanya tersimpan rapi, tapi hanya di ingatan satu orang.

Keempat, dan ini yang paling mahal: orang pergi, ilmu ikut pergi. Orang bisa pindah tugas, dipromosikan, atau keluar. Saat itu terjadi, tim tidak kehilangan satu orang. Tim kehilangan bertahun-tahun pengalaman.

Empat kerugian bila tim hanya punya satu ahliEmpat kerugian bila hanya ada satu ahli: anggota yang belum ahli tidak tumbuh, si ahli sendiri kelelahan karena semua lari kepadanya, ilmu terkunci di satu kepala, dan ketika orang itu pergi ilmunya ikut pergi.1Merugikan anggota yang belum ahliMereka tidak pernah diberi kesempatan mencoba, jadi tidak pernah tumbuh.2Merugikan si ahli sendiriSemua pertanyaan lari kepadanya. Cuti pun tidak tenang.3Ilmu terkunci di satu kepalaPengetahuan tim hanya tersimpan di satu orang, tidak tertulis di mana pun.4Orang pergi, ilmu ikut pergiSaat ia pindah tugas atau keluar, tim mulai lagi dari nol.
Satu-satunya ahli merugikan semua orang, termasuk dirinya sendiri.

Jadi tujuan kita bukan mengurangi orang ahli. Tujuan kita memperbanyak orang ahli.

Uji Cuti: Tes Sederhana untuk Tim Anda

Bagaimana Anda tahu tim Anda terlalu bergantung pada satu orang? Saya punya tes yang saya sebut uji cuti. Pertanyaannya cuma satu:

Berapa jumlah anggota tim yang boleh cuti bersamaan, sebelum tim itu macet?

Coba jawab dengan jujur, sekarang juga, untuk tim Anda.

Kalau jawabannya satu, berarti ada satu orang yang terlalu mendominasi, dan dialah yang cuti. Begitu dia tidak ada, semua menunggu.

Kalau jawabannya hampir semua boleh cuti, jangan buru-buru senang. Itu juga tanda ada satu orang yang mendominasi, hanya saja dialah yang tetap berangkat. Semua pekerjaan bertumpu padanya, sehingga absennya yang lain tidak terasa.

Kalau jawabannya sekitar 30 persen dari anggota tim, nah, itu tanda yang sehat. Kemampuan sudah tersebar dengan baik. Beberapa orang boleh tidak ada, dan tim tetap jalan.

Cara membaca jawaban uji cutiTiga kemungkinan jawaban uji cuti. Jika hanya satu orang yang boleh cuti, ada satu orang terlalu mendominasi dan dialah yang cuti. Jika hampir semua boleh cuti, ada satu orang yang mendominasi dan dialah yang tetap berangkat. Jika sekitar 30 persen anggota boleh cuti bersamaan, kemampuan sudah tersebar dengan baik.1Jawaban: hanya satu orangAda satu orang terlalu mendominasi, dan dialah yang cuti. Tim lumpuh tanpa dia.2Jawaban: hampir semua boleh cutiTetap ada satu orang yang mendominasi, dan dialah yang berangkat. Sisanya tidakterasa absen.3Jawaban: sekitar 30 persen timKemampuan sudah tersebar dengan baik. Tim tetap jalan walau beberapa orang tidakada.
Uji cuti: berapa orang boleh cuti bersamaan sebelum tim macet?

Setelah tahu jawabannya, lanjutkan dengan pertanyaan kedua: pekerjaan apa saja yang langsung berhenti kalau orang tertentu tidak ada? Tuliskan daftarnya. Daftar itulah peta prioritas Anda untuk beberapa bulan ke depan, karena di situlah keahlian perlu disebarkan lebih dulu.

Yang saya suka dari uji cuti: tes ini tidak butuh formulir. Anda cukup membayangkan hari Senin depan, lalu mencoret nama-nama di daftar tim satu per satu. Di nama ke berapa Anda mulai cemas?

Poin kunci

  • Uji cuti mengukur seberapa tersebar keahlian di tim, bukan seberapa rajin orangnya.
  • Jawaban “satu orang” dan jawaban “hampir semua orang” sama-sama tanda ada yang terlalu dominan.
  • Target yang sehat: sekitar 30 persen tim boleh tidak ada, pekerjaan tetap jalan.

Ahli Bekerja Belum Tentu Ahli Menjelaskan

Lalu kenapa si ahli tidak mengajari saja yang lain? Sering kali bukan karena pelit. Ada sebab yang lebih halus.

Saya selalu menegaskan: mengumpulkan keahlian tidak sama dengan mentransfer keahlian. Dua kemampuan yang berbeda. Orang bisa sangat jago bekerja, tapi kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan.

Saya pernah menampilkan gambar anak-anak desa yang berenang di sungai. Lincah sekali. Coba Anda minta mereka menjelaskan cara berenang. Kemungkinan besar jawabannya, “Ya pokoknya begini.” Tubuh mereka tahu, tapi kata-katanya tidak ada.

Kita tahu lebih banyak, daripada apa yang bisa kita ceritakan.

Filsuf Michael Polanyi menyebut gejala ini pengetahuan tacit (pengetahuan yang tersirat). Dalam bukunya The Tacit Dimension (1966), ia memulai dari kenyataan bahwa kita tahu lebih banyak daripada yang bisa kita ucapkan. Keahlian bertahun-tahun mengendap menjadi naluri, dan naluri sulit ditulis.

Ada jebakan kedua. Banyak orang ahli menyepelekan gundukan pengetahuan yang sudah dia kumpulkan bertahun-tahun. Kalimat yang keluar biasanya begini: “Ah, masa gitu aja nggak tahu?”

Bagi dia memang “gitu aja”. Dia sudah lupa rasanya belum tahu. Para ekonom Colin Camerer, George Loewenstein, dan Martin Weber (1989) menamai gejala ini curse of knowledge (kutukan pengetahuan): orang yang lebih tahu sulit membayangkan cara berpikir orang yang belum tahu.

Kalimat “masa gitu aja nggak tahu” itu berbahaya. Satu kali diucapkan, rekan yang belum paham akan berhenti bertanya. Dan tim yang berhenti bertanya akan kembali bergantung pada satu orang.

3T: Tulis, Tularkan, Tuntun

Kalau keahlian sulit dijelaskan, bagaimana cara menyebarkannya? Saya meringkasnya menjadi tiga kata yang mudah diingat: tulis, tularkan, tuntun.

3T: Tulis, Tularkan, TuntunTiga langkah menyebarkan keahlian. Tulis: catatan kunci singkat per pekerjaan. Tularkan: ceritakan ke rekan dan simpan di tempat bersama. Tuntun: dampingi rekan mencoba langsung.1TulisCatatan kunci singkat perpekerjaan2TularkanCeritakan, bagikan, simpanbersama3TuntunDampingi rekan mencobalangsung
Tiga langkah supaya ilmu tidak terkunci di satu kepala.

Tulis

Buat catatan kunci singkat untuk setiap pekerjaan. Saya tekankan: singkat. Cukup langkah pokok, kontak penting, dan hal yang sering salah. Tidak perlu panjang.

Banyak orang gagal di sini karena membayangkan harus menulis buku panduan seratus halaman. Akhirnya tidak pernah dimulai. Satu halaman yang benar-benar dipakai jauh lebih berguna daripada seratus halaman yang tidak pernah dibuka.

Bagian “hal yang sering salah” justru yang paling berharga. Itulah ilmu yang biasanya hanya ada di kepala si ahli, hasil dari kesalahan yang pernah dia alami sendiri.

Tularkan

Catatan yang tersimpan di laci tidak menolong siapa pun. Ceritakan ke rekan. Bagikan di grup tim. Simpan di tempat yang bisa dibuka bersama, bukan di laptop pribadi.

Menularkan juga berarti bercerita di rapat pagi: “Kemarin saya ketemu kasus begini, ternyata solusinya begini.” Satu cerita pendek seperti itu bisa menghemat satu minggu kebingungan rekan lain.

Tuntun

Ini langkah yang paling sering dilewati, padahal paling menentukan. Membaca catatan tidak sama dengan bisa mengerjakan. Dampingi rekan mencoba langsung.

Caranya bisa dengan sistem kawan kerja berpasangan, atau belajar dengan ikut mendampingi kunjungan. Orang yang belum ahli ikut ke lapangan, melihat, lalu pelan-pelan diberi kesempatan memegang kendali.

Ada kalimat yang sering dikutip dari Ki Hadjar Dewantara: “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Kalau kalimat itu kita bawa ke kantor, setiap anggota tim adalah guru bagi yang lain, dan setiap kunjungan lapangan adalah kelas.

Serah Terima Pekerjaan yang Terstruktur

Momen paling rawan bagi sebuah tim adalah saat pekerjaan berpindah tangan. Cuti. Ganti shift. Serah terima nasabah. Pindah tugas. Keluar kerja.

Di momen itu, informasi paling mudah tercecer. Yang pergi merasa sudah menjelaskan. Yang menerima merasa sudah paham. Seminggu kemudian, baru ketahuan ada yang terlewat.

Karena itu saya mengusulkan lima pertanyaan wajib yang harus terjawab sebelum seseorang meninggalkan pekerjaannya, walaupun hanya untuk dua hari.

Lima pertanyaan wajib saat serah terima pekerjaanLima pertanyaan sebelum meninggalkan pekerjaan: sampai mana status terakhirnya, siapa yang perlu dihubungi, berkasnya di mana, masalah apa yang belum selesai, dan kapan batas waktunya.1Sampai mana?Status terakhir. Kelompok mana yang sudah dikunjungi, mana yang belum.2Siapa yang dihubungi?Nama dan nomor orang penting: ketua kelompok, nasabah yang perlu perhatian khusus.3Berkasnya di mana?Letak dokumen dan catatan, di kertas maupun di aplikasi.4Masalah apa yang belum selesai?Hal yang masih menggantung: tunggakan, janji yang belum ditepati.5Kapan batas waktunya?Tenggat terdekat: jadwal pertemuan kelompok, tanggal penagihan berikutnya.
Lima pertanyaan sebelum cuti, ganti shift, atau pindah tugas.

Sampai mana? Status terakhir pekerjaan. Misalnya, kelompok mana yang sudah dikunjungi dan mana yang belum.

Siapa yang dihubungi? Nama dan nomor orang penting. Misalnya, ketua kelompok dan nasabah yang perlu perhatian khusus.

Berkasnya di mana? Letak dokumen dan catatan, baik di kertas maupun di aplikasi.

Masalah apa yang belum selesai? Hal yang masih menggantung. Misalnya, nasabah yang menunggak atau janji yang belum ditepati.

Kapan batas waktunya? Tenggat terdekat. Misalnya, jadwal pertemuan kelompok dan tanggal penagihan berikutnya.

Saran saya, jangan biarkan kelima jawaban ini hanya diucapkan sambil lalu di parkiran. Tuliskan, walau hanya di pesan singkat, lalu simpan di tempat yang bisa dibuka tim. Ucapan mudah terlupa; tulisan bisa dibaca ulang saat rekan mulai ragu.

Bagi yang menerima pekerjaan, jangan malu untuk menagih kelima jawaban itu. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan sekarang, saat orangnya masih ada. Bertanya sebelum dia berangkat jauh lebih sopan daripada meneleponnya di hari cuti.

Lima pertanyaan ini sederhana, tapi coba perhatikan: kalau kelimanya terjawab, orang yang menerima pekerjaan tidak perlu menelepon Anda saat Anda sedang cuti. Itulah tanda serah terima yang berhasil.

Bicara Ringkas dengan SBAR, Lalu Pastikan Pesannya Utuh

Menyebarkan keahlian bukan hanya soal catatan dan pendampingan. Cara kita melapor ke sesama rekan juga menentukan apakah informasi pindah dengan utuh atau tidak.

Untuk itu saya menganjurkan sistem SBAR. Sistem ini lahir dari dunia kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat, lalu diadaptasi dunia kesehatan, antara lain oleh Michael Leonard dan rekan-rekannya di Kaiser Permanente, supaya perawat dan dokter bisa saling melapor dengan cepat tanpa ada yang terlewat.

HurufArtinyaContoh di lapangan
SituasiTerangkan situasi terkini.“Satu kelompok belum hadir di dua pertemuan terakhir.”
BackgroundTerangkan situasi sebelumnya.“Sebelumnya kelompok ini selalu tertib.”
AsesmenPenilaian kesempatan dan risiko.“Kalau dibiarkan, risiko tunggakan naik.”
RekomendasiRekomendasi berbasis penilaian Anda.“Saya usul kita kunjungi ketua kelompoknya minggu ini.”

Contoh di kolom kanan itu rekaan saya untuk menggambarkan polanya. Yang penting bukan kalimatnya, tapi urutannya. Bandingkan dengan laporan yang biasa kita dengar: panjang, berputar-putar, dan baru di menit kelima ketahuan apa masalahnya.

Potongan gambar yang menipu

Setelah itu, saya mengajak bermain tebak gambar. Saya menampilkan potongan kecil sebuah foto. Dari potongan itu, terlihat seperti bagian belakang seekor sapi, atau tubuh seekor badak, atau badan seekor gorila.

Lalu gambarnya saya buka utuh. Badak itu ternyata berkepala ayam jago. Gorila itu ternyata berkepala anjing pug. Ada juga gambar seorang pria berjaket kulit dan berhelm yang dari pinggang ke atas tampak seperti pengendara motor yang rapi. Gambar utuhnya: dia bercelana pendek bermotif.

Permainan ini ringan, tapi pesannya serius. Informasi yang sepotong membuat kita mengambil kesimpulan yang salah dengan sangat yakin. Di tim, ini terjadi setiap hari. Rekan hanya menerima separuh cerita, lalu bertindak berdasarkan separuh itu.

Karena itu, pastikan keutuhan pesan. Setelah menerima serah terima atau laporan SBAR, ulangi dengan kata-kata Anda sendiri: “Jadi yang perlu saya lakukan adalah … , betul ya?” Sepuluh detik untuk mengulang jauh lebih murah daripada satu minggu memperbaiki salah paham.

Kalau Si Ahli Tidak Ada, Semua Bergerak Jadi Ahli

Menyebarkan keahlian bukan tugas satu orang. Ini kerja tiga pihak: pemimpin, si ahli, dan anggota. Masing-masing punya peran yang berbeda.

SiapaPerannya
PemimpinMelatih sebelum masalah terjadi, memberi rotasi tugas kecil, memberi kesempatan kepada anggota baru, dan menunjuk orang cadangan untuk pekerjaan kunci.
Si ahliMengajari bukan berarti tergantikan. Yang mau berbagi justru makin dipercaya.
AnggotaBerani belajar, berani bertanya, berani mencoba mengambil alih.

Untuk pemimpin, kata kuncinya adalah sebelum. Melatih orang cadangan setelah si ahli sakit sudah terlambat. Rotasi tugas kecil, misalnya bergantian memimpin pertemuan kelompok, adalah latihan murah yang hasilnya baru terasa ketika keadaan darurat datang.

Untuk si ahli, saya tahu ada ketakutan yang jarang diucapkan: kalau semua orang bisa, nanti saya tidak dibutuhkan lagi. Saya justru melihat kebalikannya.

Mengajari bukan berarti tergantikan. Yang mau berbagi justru makin dipercaya.

Orang yang membuat timnya pintar akan dilihat sebagai pemimpin. Orang yang menyimpan ilmunya sendiri akan dilihat sebagai sumbatan.

Untuk anggota, tantangannya adalah keberanian. Berani bertanya walaupun takut terlihat bodoh. Berani mencoba walaupun belum sempurna.

Di sini ada temuan yang menarik dari Google. Lewat penelitian internal bernama Project Aristotle, Google mencari apa yang membuat sebuah tim efektif. Faktor yang paling menentukan ternyata bukan siapa anggotanya, tapi rasa aman psikologis (psychological safety): keyakinan bahwa di tim ini kita boleh bertanya, mengaku belum tahu, dan mengambil risiko tanpa dipermalukan.

Maka saya selalu mengingatkan: tim yang anggotanya takut bertanya akan terus bergantung pada satu orang. Kalimat “masa gitu aja nggak tahu?” tadi adalah musuh utama rasa aman itu.

Soal budaya belajar ini, pernah saya bahas juga dalam artikel Satu Kata yang Mengubah Budaya Microsoft.

Membina dengan TKPK, Bukan dengan Menyuruh

Kalau Anda pemimpin atau si ahli, cara tercepat menyelesaikan masalah rekan adalah memberi tahu jawabannya. “Kerjakan begini.” Selesai dalam satu menit.

Masalahnya, besok dia datang lagi dengan pertanyaan yang mirip. Lusa juga. Anda tetap menjadi satu-satunya ahli, hanya sekarang lebih sibuk.

Saya menawarkan teknik membina yang saya sebut TKPK, adopsi dari model coaching GROW yang dipopulerkan Sir John Whitmore. Isinya empat pertanyaan, dan tugas Anda hanya bertanya.

Teknik membina TKPK: Tujuan, Kenyataan, Pilihan, KemauanSiklus empat pertanyaan membina yang diadaptasi dari model GROW. Tujuan: ingin apa? Kenyataan: realita dan hambatannya apa? Pilihan: opsinya apa saja? Kemauan: mau mulai kapan dan bagaimana konkretnya?1TujuanIngin apa?2KenyataanRealita dan hambatannyaapa?3PilihanOpsinya apa saja?4KemauanMulai kapan, bagaimana?TKPKBertanya, bukan menyuruh
Empat pertanyaan TKPK, adaptasi dari model GROW.

Tujuan: ingin apa? Hasil seperti apa yang ingin dicapai.

Kenyataan: realita dan hambatannya apa? Apa yang sedang terjadi sekarang.

Pilihan: opsinya apa saja? Biarkan rekan Anda mengumpulkan sebanyak mungkin pilihan, jangan buru-buru dinilai.

Kemauan: mau mulai kapan dan bagaimana konkretnya? Pertanyaan terakhir ini yang mengubah obrolan menjadi tindakan.

Di awal memang lebih lambat daripada menyuruh. Tapi jawaban yang dia temukan sendiri akan dia ingat, dan dia jalankan dengan lebih sungguh-sungguh. Pelan-pelan, dia tidak perlu bertanya lagi. Itulah saat keahlian benar-benar berpindah. Cerita tentang pemimpin yang memulai dengan bertanya juga pernah saya tulis dalam Pemimpin Best Buy yang Memulai dengan Bertanya, Bukan Mengumumkan.

Lima tahapan perubahan

Membina orang berarti mengajak orang berubah. Dan perubahan tidak terjadi dalam satu lompatan. Saya membaginya menjadi lima tahap: sadar, mau, tahu, mampu, terjaga.

Lima tahapan perubahan: Sadar, Mau, Tahu, Mampu, TerjagaLima tahapan perubahan perilaku dalam tim: sadar ada masalah, mau berubah, tahu caranya, mampu melakukannya, dan terjaga sehingga kebiasaan baru bertahan.1SadarAda yang perluberubah2MauAda alasanpribadi3TahuPaham caranya4MampuBisamelakukannya5TerjagaKebiasaanbertahan
Perubahan berjalan bertahap; melompati satu tahap biasanya membuatnya macet.

Urutan ini sejalan dengan model ADKAR yang dikembangkan Jeff Hiatt dari Prosci: Awareness, Desire, Knowledge, Ability, Reinforcement. Pelajarannya sederhana. Pelatihan hanya mengisi tahap “tahu”. Kalau orang belum sadar ada masalah dan belum mau berubah, pelatihan sebagus apa pun akan menguap.

Saya menampilkan gambar dua anak yang berboncengan sepeda, dan dua orang yang berboncengan motor. Orang yang dibonceng ikut sampai tujuan, tapi belum tentu bisa mengemudi sendiri. Tahap “mampu” baru tercapai ketika dia memegang setang. Dan tahap “terjaga” baru tercapai ketika dia terus mengemudi, bahkan saat tidak ada yang memboncengnya lagi.

Era Teknologi? Gunakan Teknologi

Bagian terakhir ini sering membuat orang tersenyum kecut. Coba jujur: berapa kali sehari Anda menelepon rekan hanya untuk bertanya “sudah sampai mana?” Atau mengirim WhatsApp berisi “P”, “P”, “P”?

Cara itu melelahkan dua pihak. Yang bertanya cemas, yang ditanya terganggu. Padahal sekarang ada tool digital yang lebih baik.

Alat pemantauan tim yang baik membuat beberapa hal menjadi terlihat oleh semua orang, tanpa harus saling menelepon:

  • Asesmen: memetakan kompetensi dan peran setiap anggota tim.
  • Target: menetapkan target kerja yang jelas sesuai kompetensi.
  • Proyek: merencanakan pekerjaan dengan penanggung jawab (person in charge, PIC) dan PIC cadangan yang jelas.
  • Realisasi: memantau perkembangan dan bukti pekerjaan secara langsung.
  • Evaluasi: menilai pencapaian dan menemukan kesenjangan.

Perhatikan butir ketiga: PIC cadangan. Di situlah teknologi bertemu dengan seluruh isi tulisan ini. Setiap pekerjaan kunci punya orang kedua yang tahu. Uji cuti pun lebih mudah lulus.

Saya tahu, di awal pasti canggung. Tombolnya banyak, istilahnya baru, dan rasanya lebih cepat cara lama. Itu wajar.

Canggung di awal adalah proses yang wajar. Semua skill butuh kurva belajar.

Yang tidak mau berinovasi akan tertinggal. Teknologi bukan beban; teknologi adalah cara agar ilmu tidak lagi terkunci di satu kepala atau satu ponsel. Tentang rasa tidak nyaman saat belajar hal baru, saya pernah menulis Belajar Hal Baru itu Menyebalkan.

Saya menutup sesi itu dengan satu kalimat: smart TV membutuhkan smart users. Alat secanggih apa pun tidak berguna kalau penggunanya tidak mau belajar.

Mari saya ringkas. Menjadi ahli itu baik, tapi menjadi satu-satunya ahli merugikan semua orang, termasuk si ahli sendiri. Keahlian bisa disebarkan lewat tulis, tularkan, tuntun, serah terima yang terstruktur, laporan SBAR, dan pembinaan dengan bertanya. Tim yang sehat adalah tim yang tetap jalan walaupun beberapa orangnya tidak ada.

Langkah kecil untuk minggu ini: lakukan uji cuti untuk tim Anda. Temukan satu pekerjaan kunci yang hanya dipahami satu orang. Lalu minta orang itu menulis satu halaman catatan kunci, dan tunjuk satu orang cadangan untuk mendampinginya di kunjungan berikutnya.

Satu pekerjaan, satu catatan, satu orang cadangan. Itu sudah awal yang baik.

Kalau Anda ingin membawa sesi seperti ini ke tim atau lembaga Anda, silakan lihat halaman factsheet EDUTRANS.ID untuk bekerja sama dengan saya.

Rujukan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *