“Pak, saya bukan humas. Kenapa saya diundang ke sini?”
Saya membuka pelatihan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), 28 September 2026, dengan kalimat itu. Saya tahu, banyak orang di auditorium sedang memikirkan hal yang sama. Hari itu 246 tenaga kependidikan (tendik) duduk di depan saya, dan ketika saya hitung dari bidang tugasnya, hanya sekitar 30 orang, atau 12 persen, yang memang bekerja di humas, media, atau public relations (PR). Sisanya melayani mahasiswa, mengurus kepegawaian dan keuangan, menjaga laboratorium, berjaga di keamanan, dan mengelola teknologi informasi.
Jawaban saya sederhana, dan menjadi benang merah sepanjang pelatihan: Anda diundang karena semua orang di kampus ini adalah humas, disadari atau tidak. Satpam yang ramah menyapa tamu sedang membangun citra fakultas. Satu balasan emosional di WhatsApp, atau satu komentar di media sosial, bisa menyeret nama institusi ke ruang publik.
Di sini saya ceritakan ulang perjalanan hari itu, supaya Anda yang tidak hadir ikut membawa pulang isinya: bagaimana kehumasan berevolusi, empat peran yang dijalankan setiap orang, keahlian yang dibutuhkan tendik di era 5.0, cara saya memakai AI untuk memantau isu, sampai apa yang perlu dilakukan ketika sebuah komentar berubah menjadi masalah. Beberapa kalimat yang saya ucapkan langsung di ruangan itu saya tampilkan di tengah cerita.
Saya susun ceritanya dalam urutan berikut. Silakan loncat ke bagian yang paling Anda butuhkan.
- Mengapa Semua Orang di Kampus Adalah Humas
- Evolusi Kehumasan: Dari 1.0 sampai 5.0
- Empat Peran: Personal dan Institutional, Branding dan Response
- Keahlian Tendik 5.0: Lunak, Keras, dan Konten Digital
- Mendengarkan Dulu, Solusi Belakangan
- AI untuk PR Intelligence: Mulai dari Diri Sendiri, Verifikasi Dulu
- Alur Menanggapi Isu: Pantau, Verifikasi, Analisis
- Studi Kasus Kelompok: Empat Zona, Empat Kasus
- Menutup: Satu Langkah Kecil untuk Minggu Ini
Mengapa Semua Orang di Kampus Adalah Humas
Pelatihan hari itu saya bagi menjadi tiga bagian: Mengapa Humas?, Menggunakan AI untuk PR Intelligence, dan The Follow Up. Bagian pertama saya mulai dengan memperlihatkan siapa saja yang sebenarnya duduk di ruangan itu: layanan akademik dan kemahasiswaan, kepegawaian dan keuangan, pimpinan, laboratorium, keamanan, teknologi informasi. Humas hanyalah satu dari sepuluh kelompok.
Coba perhatikan batang yang disorot. Humas, media, dan PR hanya sekitar 30 orang, lebih sedikit daripada layanan akademik (40 orang), kepegawaian dan keuangan (38 orang), maupun pimpinan (31 orang). Kalau sekitar 88 persen orang yang mewakili fakultas bukan petugas humas, siapa yang paling sering ditemui mahasiswa yang bertanya soal jadwal, orang tua yang menelepon, atau tamu yang datang ke loket? Merekalah, bukan petugas humas.
Dari situ saya balik pertanyaan di awal tadi. Bukan lagi “mengapa saya diundang?”, melainkan “apa yang sudah saya lakukan sebagai wajah fakultas?”. Di titik ini saya berharap kata tendik, tenaga kependidikan, punya makna baru bagi Anda. Sikap kita di depan publik, baik di meja layanan maupun di layar ponsel, adalah bagian dari reputasi institusi.
Evolusi Kehumasan: Dari 1.0 sampai 5.0
Supaya mudah dibayangkan, saya petakan kehumasan dalam lima tahap. Di setiap tahap saya terjemahkan artinya menjadi sikap yang bisa dijalankan siapa saja, bukan hanya petugas humas.
Pada tahap 1.0, humas bekerja satu arah: menyampaikan informasi lewat koran dan siaran pers. Bagi tendik, artinya informasi yang kita sampaikan harus jelas dan benar. Tahap 2.0 menambahkan kemampuan mendengarkan publik dan merawat hubungan. Di ruangan itu saya bilang, kita harus two way, dan kalau Anda tendik, mulailah dengan mendengarkan kebutuhan orang yang Anda layani. Kalau Anda suka teori, perbedaan dua tahap awal ini sejalan dengan pembedaan klasik dalam ilmu humas. James Grunig dan Todd Hunt (1984) menamai empat model komunikasi humas: press agentry, public information, two-way asymmetric, dan two-way symmetric. Dua yang pertama searah, dua yang terakhir dua arah. Penahapan 1.0 sampai 5.0 bukan istilah baku Grunig dan Hunt, tetapi keduanya bertemu pada satu gagasan: kehumasan bergerak dari menyampaikan menuju mendengarkan.
Tahap 3.0 menuntut respons real-time. Humas merespons setiap saat lewat situs web dan surel, dan bagi tendik itu berarti membalas dengan cepat dan dengan tulisan yang rapi. Tahap 4.0 bersifat many-way: semua orang bisa bersuara di media sosial, sehingga satu pelayanan buruk bisa viral. Karena itu saya minta tendik menjaga sikap, termasuk di akun pribadi.

Tahap terakhir, 5.0, bersifat predictive. Humas mengantisipasi isu dengan bantuan AI dan data, sementara manusia tetap menjadi penentu. Saya bilang kepada peserta, humas masa kini tidak boleh menunggu masalah muncul.
Humas yang sekarang harus predictive … jadi sudah tahu sebelum terjadi, bagaimana caranya pakai big data dan AI.
Bagi tendik, pesan tahap 5.0 ada dua. Pertama, manfaatkan AI dengan bijak untuk pekerjaan sehari-hari, dan saya bahas lebih jauh di bagian AI nanti. Kedua, sikap kita tetap menjadi wajah fakultas, secanggih apa pun alat yang dipakai.
Empat Peran: Personal dan Institutional, Branding dan Response
Kalau seluruh pelatihan harus saya peras menjadi satu gambar, inilah gambarnya: matriks dua kali dua. Sumbu pertama menjawab sebagai siapa kita bertindak: sebagai diri sendiri (personal) atau sebagai wakil fakultas (institutional). Sumbu kedua menjawab kapan: membangun citra sebelum ada masalah (branding) atau menjaga citra ketika masalah datang (response).
Supaya keempatnya terasa dekat, saya beri contoh. Personal branding adalah satpam yang ramah menyapa tamu dan tendik yang unggahannya santun. Personal response adalah tetap tenang ketika mahasiswa marah dan tidak membalas emosi di WhatsApp. Institutional branding berarti membagikan konten resmi fakultas, melayani sesuai SOP (Standard Operating Procedure), dan memberi informasi yang benar. Institutional response berarti tidak berkomentar sendiri soal isu viral, mendokumentasikannya, lalu melapor ke humas. Kalau Anda ingin menggali personal branding lebih dalam, saya pernah menulisnya dalam artikel tentang hubungan antara citra diri dan identitas digital.
Untuk personal response, saya ceritakan kejadian beberapa waktu lalu di Jakarta. Dua orang berebut tempat parkir. Bukannya ngobrol, bersalaman, lalu saling mengalah, salah satunya malah membuka baju dan menantang lawannya: “Kamu tahu enggak siapa saya?” Memalukan. Saya bilang kepada peserta, untung orang itu bukan dari UGM, karena kalau ketahuan dari UGM, se-UGM kena.
Lalu saya beri nasihat yang sederhana. Kalau suatu hari Bapak-Ibu kesrempet sesuatu di jalan raya, jangan marah-marah. Turun, minta maaf, baik itu salah maupun tidak. Kemungkinan besar masalahnya lebih cepat berlalu daripada kalau ngotot. Sebab pertanyaan berikutnya biasanya muncul: Anda dari mana? Dari UGM. Dan orang akan berkomentar, “Dari UGM kok suka ngotot?”
Personal branding adalah terjadi sebelum hal itu terjadi, Bapak-Ibu menyiapkan citra diri yang sangat baik.
Itulah sebabnya saya minta perilaku pribadi seimbang antara personal branding dan personal response. Coba dibedakan. Personal branding adalah persiapan: Anda menyiapkan citra diri yang sangat baik jauh sebelum ada masalah. Personal response adalah kesiapan: ketika sewaktu-waktu sesuatu yang buruk terjadi pada diri Anda, Anda sudah tahu caranya merespons. Keduanya harus seimbang, sebab citra yang dibangun bertahun-tahun bisa goyah oleh satu reaksi yang tidak terkendali.
Poin kunci
- Branding adalah apa yang kita siapkan sebelum ada masalah; response adalah apa yang kita lakukan ketika masalah datang.
- Setiap tendik menjalankan keempat peran, sebagai pribadi dan sebagai wakil fakultas.
- Reaksi pertama, terutama di ruang publik, menentukan cerita yang akan dikenang orang.
Keahlian Tendik 5.0: Lunak, Keras, dan Konten Digital
Lalu saya bertanya kepada mereka: keahlian apa yang dibutuhkan tendik di era 5.0? Saya susun lima lapis secara berurutan: interpersonal, intrapersonal, keahlian lunak (soft skill), keahlian keras (hard skill), dan digital content skill. Tiga yang terakhir saya bahas lebih dalam, karena di sanalah perubahan paling cepat terjadi.
Soft skill dan hard skill harus seimbang
Soft skill, kata saya, adalah kemampuan penunjang di luar keahlian utama Anda. Orang akuntansi hard skill-nya akuntansi, tetapi di luar itu ia harus bisa public speaking, berinovasi, dan berhumas. Ada orang teknik nuklir yang keahlian lainnya adalah menjadi pembawa acara. Menjadi MC itu soft skill-nya, keahlian aslinya tetap nuklir. Jadi kalau di antara Bapak-Ibu ada yang pintar mengemsi atau suka bernyanyi, silakan bakat itu diberi perhatian.
Lalu saya menoleh ke para sopir di ruangan itu. “Pak, coba angkat tangan. Sebentar lagi pekerjaan Bapak digantikan AI.” Kendaraan tanpa sopir sudah mulai dipakai di luar negeri. Saya tahu godaannya: memfitnah AI saja, wah itu nabrak, Pak, tidak aman, tidak bisa diajak ngobrol. Saran saya lain. Mulai sekarang seorang sopir harus punya keahlian lain, karena pimpinan dan tamu menilainya tidak hanya dari kemampuan menyetir. Bisa ngobrol dengan baik, bisa merahasiakan sesuatu, bahkan sambil mengetik laporan. Itulah yang saya maksud dengan soft skill. Rumusnya saya tutup dengan satu kalimat: keahlian lunak dan keahlian keras “harus seimbang”.

Tujuh kompetensi digital content skill
Untuk digital content skill, saya rinci menjadi tujuh kompetensi. Anggap daftar ini lembar periksa pribadi Anda:
- Memahami prinsip “medsos sebagai wajah kedua”.
- Memahami prinsip “main medsos” versus “ngonten”.
- Merencanakan konten: copywriting dan content writing.
- Mengeksekusi konten: mengambil video dan menyunting sederhana.
- Menjaga konsistensi konten dengan ODOC (one day one content).
- Memahami mitos dan fakta algoritma.
- Memakai AI sebagai daya ungkit kreativitas.
Main medsos atau ngonten?
Dari tujuh itu, yang paling saya tekankan adalah yang kedua. Saya bilang kepada peserta: yang namanya main medsos itu beda dengan ngonten. Orang yang main medsos adalah konsumen. Anda diberi iklan, dibanjiri konten, sampai sebagian orang mulai percaya bahwa kebahagiaan itu harus berupa mobil Ferrari. Itu korban medsos. Orang yang ngonten ikut membuat: ia menyiapkan, memproduksi, dan menjaga konsistensinya sendiri.
Saya beri satu contoh yang membuat ruangan tertawa. Kalau suatu hari Bapak-Ibu melihat saya memberi istri saya buket berisi uang, apa kata teman-teman Anda: romantis, atau ngonten? Di situlah bedanya. Dari yang sekadar menonton, Anda bergeser menjadi yang ikut membuat.
Perbedaannya bukan soal gengsi, melainkan sikap. Saya sendiri berkelakar bahwa kalau saya menggulir TikTok, yang saya lakukan adalah riset, bukan bermain. Pesan saya kepada peserta jelas.
Bapak, Ibu, ayo jangan main, tapi kerja.
Untuk melatih sikap itu, saya beri mereka tugas kecil: menulis keterangan (caption) bagi sebuah poster gedung fakultas yang akan diunggah ke Instagram, dengan target komentar dan share. Anda bisa mencobanya di unit kerja sendiri. Kalau ingin belajar lebih jauh tentang komunikasi di media sosial, baca buku gratis saya tentang komunikasi di media sosial, dan artikel saya tentang public speaking dan personal branding bagi yang ingin melatih soft skill berbicara.
Mendengarkan Dulu, Solusi Belakangan
Tahap 2.0 tadi, mendengarkan, terdengar mudah sampai kita berhadapan dengan orang yang sedang kesal. Di ruangan itu saya mulai dari satu pengamatan yang berguna bagi semua petugas layanan: orang yang datang ke tempat Anda belum tentu mendapat solusi, tetapi ia bisa merasa didengarkan.
Saya belajar ini dari rumah. Dulu, setiap kali istri saya curhat, saya langsung menyiapkan solusi. Kalau cowok bertemu cowok, biasanya begini: “Aduh, bokek, Bro? Ya sudah, ke koperasi, pinjam, selesai.” Tetapi cerita istri saya biasanya sudah membawa solusinya sendiri. Suatu kali istri saya bercerita bahwa ada orang yang melihatnya tidak tersenyum. Saya, yang mengira solusilah yang dicari, menjawab: mungkin orang itu tidak pakai kacamata, atau memang tidak melihat Anda. Jawaban istri saya: “Oh, jadi sekarang kamu berpihak pada dia?” Dia siapa? Saya sendiri tidak tahu. Sejak itu saya punya prinsip.
Bukan solusi yang diminta, tapi validasi.
Hal yang sama berlaku bagi orang tua, siswa, dan mahasiswa. Mereka sering datang membawa prasangka, kebencian, atau kecurigaan. Biarkan dulu, karena di pikiran mereka memang begitu. Yang kita lakukan adalah memvalidasi perasaannya.
Untuk memperjelas, saya uji ruangan itu. Kalau teman Bapak-Ibu kehilangan kunci motor, apa yang Anda ucapkan? Ada yang menjawab, “Sukurin.” Itu tidak empati sama sekali. Ada yang bilang, “Kok bisa hilang?” atau “Hilangnya di mana?” Lucu bagi yang mendengar, tetapi bagi yang kehilangan, pasti sedih. Saya bilang, “Anda ini orang teknik lho. Anda tahu artinya hilang: hilang ya hilang.” Maka saran saya, dengarkan dan validasi perasaannya. Orang yang kehilangan kunci ingin dikasihani. “Oh, yuk kita cari bareng-bareng.” Apakah kita benar-benar mencari bersama? Tidak juga. Itu lip service saja, tetapi yang terpenting orang itu merasa didengarkan.

Coba minggu ini
- Dengarkan keluhan sampai selesai tanpa memotong, lalu ulangi inti perasaannya dengan kata-kata Anda sendiri.
- Baru setelah itu tawarkan langkah konkret, atau katakan terus terang apa yang bisa dan belum bisa Anda bantu.
- Balas pesan layanan dengan cepat dan dengan tulisan yang rapi, sesuai prinsip tahap 3.0.
AI untuk PR Intelligence: Mulai dari Diri Sendiri, Verifikasi Dulu
Bagian kedua pelatihan, Menggunakan AI untuk “PR Intelligence”, saya mulai dengan peringatan: jawaban AI tidak selalu benar, dan insting kita juga tidak selalu benar. Karena itu verifikasi menjadi sangat penting.
Memahami isu secara utuh, tidak parsial
Saya ingin peserta mengalaminya sendiri. Saya tampilkan potongan kecil sebuah gambar dan meminta mereka menebak, dan tebakan itu berubah total begitu gambar utuh terlihat. Saya lanjutkan dengan gambar seorang pengendara yang dari belakang tampak berpakaian tebal, lalu ternyata bercelana pendek ketika dilihat utuh. Pelajarannya langsung terkait dengan pekerjaan humas: sebelum menanggapi komentar atau berita, pastikan Anda melihat konteks utuhnya, bukan hanya potongan yang kebetulan sampai ke layar Anda.
Pakai AI untuk pekerjaan sendiri dulu
Urutan yang saya sarankan: sebelum memakai AI untuk membantu institusi, pakai dulu AI untuk membantu pekerjaan Anda sendiri. Contoh dari saya: memakai MCP surel untuk mencari dokumen atau pola dokumen, memakai ekstensi cursor untuk mengotomatiskan pengisian data rutin, memakai AI Google Script untuk membuat Google Form secara otomatis, membuat video atau poster media sosial dengan desain yang “natural”, dan membuat aplikasi sederhana untuk kebutuhan sendiri. Soal batas dan etika memakai AI untuk keterampilan komunikasi, saya pernah menulisnya dalam artikel tentang memakai kecerdasan buatan untuk memperbaiki public speaking.
Anggaran AI pribadi
Saya juga bicara soal uang, karena biaya sering menjadi alasan orang menunda. Kisarannya per September 2026 ada di tabel berikut. Harga, paket, dan masa langganan dapat berubah, jadi periksa kembali sebelum membeli.
| Layanan | Biaya (September 2026) | Pengalaman saya |
|---|---|---|
| ChatGPT | Minimal 20 dolar sebulan | Kuat untuk masalah rumit sampai tingkat akademik dan pemrograman. Gambar versi gratisnya agak buluk, tetapi dengan prompt yang baik poster Anda jadi lebih nyaman dilihat. |
| Claude | Minimal 20 dolar sebulan | Bagi saya, mesin kerja andal. Saya pasang tidak hanya di situs web, tetapi juga di laptop. Ada paket di atasnya (sampai 100 dolar), belum termasuk PPN 11 persen. |
| Gemini Pro | Rp89.000 | Terhubung dengan Google Drive, Docs, dan Sheets, dan bisa menambah ruang Drive. Saya juga tidak bisa lepas dari Gemini. |
| CapCut | Rp99.000 | Untuk penyuntingan video sederhana. Versi gratis kadang ada iklan dan beberapa transisi tidak bisa dipakai, tetapi masih layak dicoba dulu. |
| Canva | Rp99.000 | Versi gratis tidak bisa memakai aset desain yang bagus. Kalau satu orang merasa boros, patungan berempat dalam satu tim. |
Dengan Claude, saya bisa menyuruhnya mengecek email saya dan mengunjungi akun Instagram saya satu per satu, pekerjaan yang kalau saya klik sendiri melelahkan. Prinsip saya sederhana: kalau Anda sudah bekerja secara profesional dan ingin AI yang baik, pilih yang berbayar. Pertanyaannya tinggal, bayar sendiri atau dibayari kantor? Saya tanyakan itu kepada peserta, dan jawaban mereka membuat saya tersenyum. Ternyata di ruangan itu tidak ada yang mau untung sendiri. Semuanya ingin berjaya bareng-bareng.
Social listening dengan agen AI
Bagian yang paling mudah diterapkan humas adalah social listening, yaitu memantau apa yang dikatakan orang tentang institusi. Di pelatihan itu saya memperlihatkan perintah yang saya berikan kepada AI: carikan tren pemberitaan tentang FT UGM selama satu bulan terakhir, kelompokkan menjadi positif, negatif, dan netral, dari semua sumber yang dapat dijangkau. AI lalu menjalankan empat riset secara paralel: berita nasional, media lokal Yogyakarta, situs resmi dan media pendidikan, serta media sosial dan forum publik. Hasilnya dirangkum menjadi laporan tentang visibilitas daring fakultas dan tren pemberitaannya. Saya juga memperlihatkan hasil ketika saya meminta AI menganalisis performa akun Instagram saya sendiri.
Untuk komentar di media sosial, saya tunjukkan analisis sentimen dengan perangkat seperti APIFY atau perangkat sejenis. Hasilnya berupa tabel sederhana yang bisa divisualisasikan seperti di bawah ini.
Angka ini perlu dibaca dengan kepala dingin. Mayoritas komentar bernada positif, tetapi komentar negatif yang jumlahnya paling kecil justru yang perlu dibaca satu per satu. Saya tunjukkan dua contoh: satu komentar yang kasar dan menyebut penanganan sebuah masalah tidak becus, dan satu lagi yang menuntut tindakan konkret, bukan sekadar kecaman. Alat analisis sentimen hanya mengelompokkan komentar. Keputusan tentang mana yang perlu ditanggapi tetap pekerjaan manusia.
AI dan Big Data akan mengidentifikasi gejala; langkah selanjutnya, yang menentukan manusia.
Alur Menanggapi Isu: Pantau, Verifikasi, Analisis
Bagian ketiga, The Follow Up, berangkat dari kalimat tadi. Setelah AI mengenali gejala, langkah berikutnya jatuh ke tangan manusia. Saya rumuskan menjadi tiga kata kerja yang berurutan: pantau, verifikasi, dan analisis tingkat risiko sebelum merespons.
Untuk menjabarkannya, saya pakai kasus latihan tentang seorang tendik yang berlibur ke Paris bersama keluarga dengan tabungannya sendiri, lalu mengunggah foto bahagia. Seseorang berkomentar, “Gaji kampus kok bisa ke Paris? Hayo uangnya dari mana?” Komentar itu menyebar dan akun lain ikut menyeret nama fakultas.
- Pantau dan dokumentasikan. Simpan tangkapan layar komentar sebagai bukti. Jangan membalas dengan emosi.
- Verifikasi. Cek apa yang sebenarnya dikatakan dan oleh siapa, sebelum menyimpulkan.
- Analisis tingkat risiko. Apakah isunya masih urusan pribadi, atau nama institusi sudah ikut terseret?
- Putuskan. Bila nama institusi terseret, laporkan ke atasan dan humas sesegera mungkin, agar klarifikasi dilakukan satu pintu. Bila tidak, tanggapi dengan tenang dan singkat, atau pertimbangkan untuk tidak menanggapi. Saya sengaja menanyakan “balas, hapus, atau diam?” sebagai bahan diskusi.
Ada dua hal yang saya tegaskan. Berlibur dengan uang sendiri adalah hak pribadi yang sah, tetapi di era media sosial setiap tendik tetap dibaca sebagai wajah fakultas. Dan Anda tidak perlu membuka bukti rekening atau data pribadi di ruang publik hanya untuk membela diri. Sebagai pencegahan, atur privasi akun dan audiens unggahan, dan lakukan screenshot test sebelum mengunggah. Tanyakan pada diri sendiri: apakah unggahan ini masih baik jika ditangkap layar dan disebarkan tanpa konteks?
Ketika isunya lebih besar
Kasus keempat yang saya siapkan jauh lebih berat: mahasiswa berdemonstrasi menolak uang kuliah tunggal (UKT) dan bertahan dua hari di depan dekanat, sementara wartawan menunggu pernyataan fakultas. Untuk situasi seperti ini saya merujuk pada Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs (2007). Inti teori itu adalah menilai seberapa besar publik menganggap organisasi bertanggung jawab atas krisis, lalu mencocokkan strategi respons dengan tingkat ancaman terhadap reputasi.
Beberapa kata kunci yang saya harapkan muncul dalam jawaban peserta menunjukkan arah praktisnya: holding statement (pernyataan singkat sementara bahwa fakultas mengetahui isu, sedang memeriksa, dan akan menyampaikan informasi lanjutan), satu pintu komunikasi melalui pimpinan dan humas, koordinasi dengan universitas karena UKT adalah kebijakan universitas, empati terhadap aspirasi mahasiswa, pengamanan yang humanis tanpa kekerasan, dan pembukaan forum dialog. Bagi tendik, aturan terpentingnya adalah tidak berkomentar di akun pribadi. Jika sebagian bahan dibuat dengan AI, saya minta manusia memeriksanya dengan daftar AKEK: akurasi, konteks, etika, dan karakter institusi.
Kalau Anda ingin melihat seperti apa respons yang membangun kepercayaan, saya pernah menulis dua kisah nyata: Krisis Tylenol 1982, ketika pimpinan memilih kejujuran radikal, dan krisis KFC di Inggris tahun 2018, ketika iklan “FCK” mengubah kegagalan rantai pasok menjadi kepercayaan publik.
Studi Kasus Kelompok: Empat Zona, Empat Kasus
Pelatihan saya tutup dengan latihan yang membuat seluruh auditorium bekerja. Saya bagi ruangan menjadi empat zona dari kiri ke kanan menurut posisi duduk. Setiap zona mendapat satu kasus, dan setiap kasus mewakili satu kuadran dari matriks tadi. Formatnya padat: 17 menit per kasus.
Diskusi berlangsung per baris, beranggotakan lima sampai delapan orang, tanpa berpindah kursi. Sebelum menit kesepuluh, setiap zona memilih satu perwakilan dan satu pendamping. Setelah presentasi, baris lain di zona yang sama boleh menambahkan satu ide baru dalam waktu maksimal satu menit. Keempat skenario di bawah ini adalah kasus latihan yang saya karang, bukan peristiwa nyata.
| Zona dan kuadran | Skenario latihan | Hasil yang saya minta |
|---|---|---|
| Zona kiri: personal branding | Sebuah jembatan di Yogyakarta ambruk, tetapi media justru mewawancarai pengamat tanpa latar belakang teknik, padahal prodi Anda punya ahli struktur jembatan yang tidak dikenal jurnalis. | Strategi jangka panjang, daftar persiapan, dan profil pakar tiga kalimat. |
| Zona tengah kiri: institutional branding | Engineering Festival enam minggu lagi. Lima sponsor mensyaratkan minimal 10.000 peserta, tetapi baru 2.300 yang mendaftar dalam dua minggu, dan seorang panitia mengusulkan agar angka “dibulatkan”. | Tiga strategi, satu cara hitung yang jujur, dan satu kalimat untuk sponsor. |
| Zona tengah kanan: personal response | Foto liburan Anda dikomentari “Gaji kampus kok bisa ke Paris?” dan isunya melebar ke nama fakultas. | Hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, balasan dua kalimat yang tenang, dan aturan unggah. |
| Zona kanan: institutional response | Mahasiswa menolak UKT dan bertahan dua hari di depan dekanat, sementara media meliput. | Langkah 48 jam, holding statement tiga kalimat, dan peran tendik. |
Kasus kedua layak saya sorot. Jawaban yang saya harapkan menekankan integritas data dan keterbukaan kepada sponsor sejak dini, bukan akal-akalan angka. Di situlah kejujuran menjadi bagian dari reputasi.
Cara menilai respons
Setiap presentasi tiga menit dinilai fasilitator dengan empat kriteria, masing-masing diberi skor 1 (belum tampak), 2 (cukup), atau 3 (kuat), sehingga skor maksimal 12. Setelah itu fasilitator memberi umpan balik satu menit: satu hal yang kuat dan satu hal yang perlu diperbaiki. Setelah keempat zona tampil, seluruh ruangan memilih “Respons Terbaik” melalui polling dengan kode QR (Quick Response), misalnya memakai Mentimeter atau Slido.
Kriteria ini berlaku untuk balasan komentar sehari-hari juga. Sebelum mengirim, tanyakan empat hal: apakah respons ini tepat untuk kuadrannya, apakah saya menulisnya dengan tenang, apakah faktanya sudah saya cek, dan apakah ia jujur, adil, serta melindungi pihak yang rentan.
Menutup: Satu Langkah Kecil untuk Minggu Ini
Hari itu saya mengajak semua orang mengubah cara memandang pekerjaan sehari-hari. Semua orang di kampus adalah humas. Kehumasan modern menuntut kita mendengarkan, merespons dengan cepat dan tenang, dan memakai AI untuk melihat gejala sambil tetap memegang keputusan.
Anda tidak perlu menunggu pelatihan berikutnya untuk memulai. Minggu ini, coba lakukan tiga hal kecil:
- Tulis di catatan ponsel Anda satu balasan dua kalimat yang tenang untuk situasi paling mungkin memancing emosi di pekerjaan Anda.
- Buat satu aturan pribadi sebelum mengunggah, misalnya uji tangkapan layar: apakah unggahan ini masih baik jika dibaca tanpa konteks?
- Pastikan Anda tahu siapa humas dan atasan yang harus dihubungi saat nama institusi terseret, dan nomor kontaknya tersimpan.
Jika lembaga Anda ingin menjalankan pelatihan serupa bagi tim, silakan lihat halaman factsheet EDUTRANS.ID untuk mengetahui topik, format, dan cara bekerja sama dengan saya.
Rujukan
- Coombs, W. T. (2007). Protecting organization reputations during a crisis: The development and application of situational crisis communication theory. Corporate Reputation Review, 10(3), 163–176. https://doi.org/10.1057/palgrave.crr.1550049
- Grunig, J. E., & Hunt, T. (1984). Managing Public Relations. New York: Holt, Rinehart and Winston.
- Pratama, H. (2026). Transformasi Kehumasan Profesional melalui Medsos, TI, dan AI [pelatihan]. Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 28 September 2026.


Leave a Reply