
Pada 4 Februari 2014 Satya Nadella mengirim surat elektronik pertamanya sebagai Chief Executive Officer Microsoft kepada seluruh karyawan. Isinya bukan target penjualan dan bukan pula daftar produk. Ia menulis bahwa dirinya dikenal karena rasa ingin tahu dan haus belajar, lalu menambahkan kalimat yang kemudian banyak dikutip, yaitu bahwa jika seseorang berhenti mempelajari hal baru, ia akan berhenti mengerjakan hal-hal hebat dan berguna. Ia juga meminta setiap orang menemukan makna dalam pekerjaannya.
Dari titik itu Microsoft menjalankan perubahan budaya yang kemudian diringkas dalam satu pergeseran istilah. Perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai organisasi yang merasa serba tahu, atau know it all, diarahkan menjadi organisasi yang ingin serba belajar, atau learn it all. Gagasan itu diadaptasi Nadella dari buku psikolog Stanford Carol Dweck tentang pola pikir bertumbuh. Ketika ia menjabat pada Februari 2014, nilai pasar Microsoft berada sedikit di atas 300 miliar dolar Amerika Serikat. Satu dekade kemudian nilai itu bergerak melampaui angka tiga triliun dolar.
Mengapa Istilah Itu Penting
Perubahan budaya sering gagal karena disampaikan sebagai daftar nilai yang panjang dan abstrak. Pasangan know it all dan learn it all bekerja karena tiga alasan linguistik. Ia pendek sehingga mudah diingat, ia kontrastif sehingga posisinya jelas, dan ia menyebut perilaku bukan sifat sehingga dapat diperiksa dalam rapat sehari-hari. Seorang manajer dapat bertanya apakah tadi ia bersikap know it all, dan pertanyaan itu masuk akal. Pertanyaan yang sama tidak dapat diajukan terhadap nilai seperti keunggulan atau integritas.
Sudut pandang penyeimbang perlu disebut. Sebagian pengamat menilai lonjakan nilai Microsoft lebih banyak ditentukan oleh keputusan strategis di bidang komputasi awan dan kecerdasan buatan daripada oleh perubahan budaya. Penilaian itu wajar. Namun keputusan strategis besar menuntut ribuan orang berhenti mempertahankan produk lama, dan perpindahan sikap semacam itu berlangsung melalui bahasa.
Tiga Hal yang Dapat Diterapkan Organisasi
Pertama, ringkas arah perubahan menjadi satu pasangan kontras. Satu pasangan istilah yang berlawanan lebih kuat daripada sepuluh nilai yang berdiri sendiri, karena audiens langsung tahu apa yang ditinggalkan dan apa yang dituju.
Kedua, jadikan pemimpin sebagai contoh pertama, bukan pengumum. Nadella menulis tentang rasa ingin tahunya sendiri sebelum meminta orang lain berubah. Pesan perubahan yang berbentuk perintah menghasilkan kepatuhan, sedangkan pesan yang berbentuk pengakuan menghasilkan peniruan.
Ketiga, ubah bentuk pertemuan, bukan hanya kata-kata. Budaya belajar hanya tampak nyata jika rapat menyediakan waktu untuk pertanyaan yang belum ada jawabannya. Jika seluruh agenda rapat berisi laporan capaian, istilah baru akan menjadi hiasan dinding.
Menutup
Bagi pemimpin organisasi di Indonesia, pelajaran dari kasus ini bukan meniru istilah Microsoft. Pelajarannya adalah menemukan pasangan kata sendiri, dalam bahasa yang dipakai karyawan sehari-hari, yang cukup pendek untuk diucapkan di tengah rapat dan cukup tajam untuk mengoreksi perilaku pada saat itu juga.
Gambar ilustrasi: Data room oleh Michael_Hiraeth, lisensi CC0 melalui Wikimedia Commons. Foto ini bersifat ilustratif dan bukan dokumentasi peristiwa yang dibahas.




Leave a Reply