Teknik Menjadi Pembawa Acara Berbahasa Inggris untuk Acara Korporat

Teknik Menjadi Pembawa Acara Berbahasa Inggris untuk Acara Korporat

Teknik Menjadi Pembawa Acara Berbahasa Inggris untuk Acara Korporat

Setiap tahun semakin banyak organisasi di Indonesia menyelenggarakan acara yang menuntut pembawa acara berbahasa Inggris. Peluncuran produk dengan tamu regional, rapat pemegang saham dengan investor asing, konferensi akademik, penandatanganan nota kesepahaman, sampai acara penghargaan internal perusahaan multinasional. Kebutuhannya nyata, tetapi persiapannya sering keliru arah.

Kekeliruan yang paling sering saya temui di ruang pelatihan adalah anggapan bahwa masalahnya terletak pada kosakata. Peserta datang membawa daftar frasa formal, menghafalkan ungkapan pembuka, lalu tetap gagal menguasai ruangan. Penyebabnya bukan perbendaharaan kata. Penyebabnya adalah tiga hal yang jarang diajarkan, yaitu pengelolaan giliran bicara, penanda wacana, dan penempatan tekanan utama dalam kalimat.

Peran Pembawa Acara Bukan Berbicara, Melainkan Menyerahkan Panggung

Sosiolog Erving Goffman memperkenalkan gagasan tentang kerangka partisipasi, yang membedakan antara orang yang menyuarakan kata-kata, orang yang menyusun kata-kata itu, dan pihak yang bertanggung jawab atas isinya. Pembawa acara hampir selalu berada pada posisi pertama. Ia menyuarakan susunan acara yang disusun panitia, atas nama lembaga yang menyelenggarakan. Ia bukan pemilik pesan.

Implikasinya praktis dan langsung. Pembawa acara yang baik tidak berusaha menjadi tokoh paling menarik di ruangan. Tugasnya adalah memindahkan perhatian audiens dari satu mata acara ke mata acara berikutnya dengan mulus, dan menyerahkan panggung kepada orang yang memang berhak berbicara. Pembawa acara yang terlalu banyak berbicara sesungguhnya sedang gagal menjalankan tugasnya, bukan sedang menjalankannya dengan bersemangat.

Dalam bahasa Inggris, penyerahan panggung ini memiliki bentuk baku yang perlu dikuasai. Perhatikan urutannya, yaitu memberi konteks, menyebut kelayakan, baru menyebut nama. Contohnya, To open our session this morning, we have someone who has led this transformation from the very beginning. Please welcome our Director of Operations, Ibu Sari Wijaya. Nama diletakkan paling akhir karena di situlah tepuk tangan seharusnya jatuh. Menyebut nama di awal membuat sisa kalimat terdengar seperti keterangan yang tertinggal.

Penanda Wacana adalah Rambu, Bukan Hiasan

Penanda wacana atau discourse marker adalah kata dan frasa yang tidak menambah isi tetapi memberi tahu pendengar posisi mereka dalam alur acara. Dalam bahasa Indonesia kita memakai baiklah, selanjutnya, dan sebelum kita lanjutkan. Dalam bahasa Inggris padanannya bukan terjemahan harfiah, melainkan seperangkat frasa tersendiri.

Yang perlu dikuasai seorang pembawa acara setidaknya empat kelompok. Untuk membuka, gunakan Let me begin by atau I would like to start with. Untuk berpindah, gunakan Moving on to, That brings us to, atau With that in mind. Untuk kembali ke jalur setelah gangguan, gunakan Coming back to our agenda atau Where we left off. Untuk menutup satu bagian, gunakan That concludes atau Before we move on, let me thank.

Empat kelompok itu sudah cukup untuk sembilan puluh persen acara. Menghafal dua puluh frasa justru berbahaya, karena pembawa acara menjadi sibuk memilih dan kehilangan waktu berpikir. Sedikit frasa yang benar-benar otomatis jauh lebih berguna daripada banyak frasa yang masih perlu diingat.

Tekanan Utama Menentukan Makna, Bukan Sekadar Gaya

Ini bagian yang paling sering terlewat dan pengaruhnya paling besar. Dalam bahasa Inggris, satu kata dalam setiap kelompok tutur menerima tekanan utama atau nuclear stress, dan letak tekanan itu mengubah makna kalimat secara mendasar.

Perhatikan kalimat We will hear from the Minister after the break. Bila tekanan jatuh pada kata Minister, pesannya adalah bahwa yang akan berbicara adalah Menteri, bukan orang lain. Bila tekanan jatuh pada kata break, pesannya adalah bahwa itu terjadi setelah rehat, bukan sekarang. Penutur Indonesia cenderung meratakan tekanan karena bahasa Indonesia tidak memakai tekanan untuk membedakan makna dengan cara yang sama. Akibatnya kalimat terdengar benar secara tata bahasa namun kehilangan penunjuk arah.

Aturan praktisnya sederhana. Tekanan jatuh pada informasi yang baru bagi pendengar. Ketika Anda menyebut nama pembicara untuk pertama kali, tekankan namanya. Ketika Anda menyebutnya lagi untuk mengucapkan terima kasih, jangan tekankan namanya lagi, tekankan hal yang baru, misalnya kata insight pada Thank you for those insights.

Tiga Kesalahan yang Berulang pada Acara Dwibahasa

Pertama, menerjemahkan struktur, bukan fungsi. Frasa hormat bahasa Indonesia seperti “yang kami hormati” tidak memiliki padanan langsung dalam protokol berbahasa Inggris. Memaksakan terjemahan menghasilkan kalimat panjang yang janggal. Fungsinya, yaitu menandai penghormatan berjenjang, dicapai dalam bahasa Inggris melalui urutan penyebutan dan melalui frasa singkat seperti distinguished guests, bukan melalui pengulangan.

Kedua, kecepatan bicara yang tidak disesuaikan. Penelitian tentang kecepatan tutur menunjukkan bahwa laju sekitar 140 sampai 160 kata per menit nyaman untuk presentasi, dan laju yang lebih cepat menurunkan pemahaman baik pada pendengar penutur asli maupun bukan penutur asli. Menariknya, laju yang lebih cepat tidak membuat pesan lebih meyakinkan. Pada acara dwibahasa dengan audiens campuran, laju sekitar 130 sampai 140 kata per menit adalah pilihan yang aman.

Ketiga, tidak menyiapkan naskah untuk keadaan tak terduga. Pembicara terlambat, berkas presentasi gagal terbuka, sesi tanya jawab kosong tanpa penanya. Tiga situasi ini terjadi pada hampir setiap acara. Pembawa acara profesional menyiapkan tiga kalimat jembatan tertulis untuk masing-masing, dalam bahasa Inggris, dan melatihnya. Improvisasi dalam bahasa kedua di bawah tekanan adalah keterampilan yang jauh lebih sulit daripada yang diperkirakan orang.

Cara Berlatih yang Benar-Benar Menghasilkan

Membaca naskah berulang kali di dalam hati tidak memperbaiki apa pun. Yang memperbaiki adalah latihan dengan rekaman dan umpan balik. Rekam diri Anda membawakan sepuluh menit pertama acara, lalu periksa tiga hal secara terpisah. Hitung kata per menit Anda. Tandai setiap penanda wacana yang Anda pakai dan periksa apakah ada yang berulang lebih dari tiga kali. Dengarkan sekali lagi khusus untuk mendengar di mana tekanan utama jatuh pada setiap kalimat perkenalan.

Ketiga hal itu dapat diukur, dan karena dapat diukur, ketiganya dapat diperbaiki dalam hitungan minggu, bukan tahun.

Bila Anda Ingin Melangkah Lebih Jauh

Untuk organisasi yang secara rutin menyelenggarakan acara berbahasa Inggris, kemampuan ini sebaiknya tidak bergantung pada satu atau dua orang saja. EDUTRANS.ID menyediakan pelatihan komunikasi dan kepemimpinan korporat, termasuk penyiapan pembawa acara dan juru bicara untuk acara dwibahasa, yang dirancang sesuai konteks lembaga masing-masing. Informasinya dapat dilihat di edutrans.id.

Bagi yang ingin mengukur posisi kemampuannya lebih dahulu sebelum memilih pelatihan, SPEAK AUDITOR memberikan analisis sembilan dimensi kompetensi berbicara beserta skor terukur hanya dari satu rekaman berdurasi tiga menit. Hasilnya berguna sebagai titik awal yang objektif, baik untuk perorangan maupun untuk memetakan kebutuhan pelatihan satu tim. Selengkapnya di speakauditor.com.

Gambar ilustrasi: 2023 The Gathering key event oleh Web Summit, lisensi CC BY 2.0 melalui Wikimedia Commons. Foto ini bersifat ilustratif dan bukan dokumentasi acara yang dibahas.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *