
Sesekali muncul pernyataan bahwa sekolah tinggi-tinggi tidak ada gunanya. Menariknya, pernyataan itu justru sering datang dari orang yang sudah menikmati hasil pendidikannya sendiri, tetapi sudah lupa pada prosesnya. Menurut pengamatan saya, pendidikan mengubah hidup hampir setiap orang. Yang berbeda hanyalah caranya.
Enam Jalur Perubahan yang Sering Tidak Disadari
Perubahan secara langsung. Ini jalur yang paling mudah dilihat, dan kebetulan itu pula yang saya alami sendiri. Sejak awal saya ingin menjadi guru dan pengajar, lalu menempuh program Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Setelah lulus, saya benar-benar mengajar: di ruang kelas, lewat les privat, sampai melatih karyawan di perusahaan.
Perubahan kedewasaan. Proses pendidikan memberi seseorang waktu untuk tumbuh, untuk belajar meregulasi emosi, dan untuk berlatih mengambil keputusan. Kematangan semacam ini tidak tercantum di ijazah, tetapi langsung terasa ketika seseorang menghadapi tekanan.
Perubahan keterampilan lunak. Sepanjang masa studi ada banyak ruang berlatih: diskusi, komunikasi, public speaking, presentasi, kepemimpinan, sampai pemecahan masalah. Banyak orang meremehkan latihan itu ketika menjalaninya, padahal justru kemampuan itulah yang terpakai saat bekerja atau berbisnis.
Perubahan kepercayaan diri. Semakin tinggi pendidikan dan gelar yang dimiliki, biasanya semakin besar pula rasa percaya diri seseorang. Kadarnya memang tidak seragam pada setiap orang, tetapi hampir selalu ada.
Perubahan lingkaran pergaulan. Perubahan ini terjadi tanpa disengaja dan tanpa direkayasa. Orang cenderung merapat kepada mereka yang setipe dan setara pergaulannya, sehingga jaringan seseorang ikut bergeser seiring pendidikan yang ditempuhnya.
Perubahan pola pikir. Berpikir kritis, menyusun penalaran induktif dan deduktif, serta kebiasaan mencari jalan kreatif adalah hasil latihan yang panjang. Pola pikir inilah yang paling sulit dilihat orang lain, tetapi paling sering menentukan kualitas keputusan seseorang.
Mengapa Manfaatnya Sering Terlupakan
Manfaat pendidikan jarang datang dalam bentuk yang mencolok. Yang diingat orang biasanya hanya dua hal, yaitu gelar di akhir dan biaya di awal. Ratusan jam diskusi, presentasi yang berantakan lalu diperbaiki, tugas kelompok dengan anggota yang sulit diajak bekerja sama, semuanya menguap dari ingatan padahal di situlah sebagian besar perubahan terjadi.
Keberatan terhadap pandangan ini perlu diakui secara jujur. Memang ada orang yang berhasil tanpa pendidikan formal yang tinggi, dan memang ada penyelenggaraan pendidikan yang asal jadi sehingga nyaris tidak memberi ruang berlatih apa pun. Dua kenyataan itu benar. Namun adanya pengecualian tidak membatalkan polanya, dan yang layak dikritik adalah mutu penyelenggaraannya, bukan gagasan pendidikannya.
Menutup
Kalau ada yang berkata pendidikan tidak ada gunanya, ajak ia menelusuri satu per satu enam jalur di atas dalam hidupnya sendiri. Biasanya ia akan menemukan bahwa manfaatnya sudah lama ia pakai setiap hari, hanya saja ia sudah lupa dari mana kemampuan itu datang.
Gambar ilustrasi: tiga wisudawan merayakan kelulusan sambil memegang ijazah, oleh George Pak, lisensi Pexels melalui Pexels. Foto ini bersifat ilustratif dan bukan dokumentasi kegiatan yang dibahas.




Leave a Reply