
Selama Piala Dunia 2026, seekor bebek berusia dua tahun bernama Merlin menjadi jimat tidak resmi pendukung Meksiko. Ia viral pada awal Juni setelah terlihat ikut merayakan kemenangan pertama tim nasional, dan popularitasnya melampaui Zayu si Jaguar, maskot resmi rancangan FIFA. Merlin bahkan diterima Presiden Claudia Sheinbaum, dan namanya sempat menjadi objek sengketa merek dagang. Ketika dibawa ke stadion di Mexico City, aturan FIFA melarangnya masuk.
Anggaran besar kalah oleh yang tidak dirancang
Zayu dibuat melalui riset dan proses desain panjang. Merlin tidak dirancang sama sekali. Namun publik memilih Merlin, dan alasannya penting untuk dipahami.
Audiens hari ini terlatih mengenali pesan yang disusun untuk memengaruhi mereka. Begitu sesuatu terasa dirancang untuk menjual, tingkat kepercayaan turun. Sebaliknya, hal yang tampak tidak berkepentingan justru dianggap jujur.
Konsekuensi bagi organisasi
Kanal resmi bukan satu-satunya suara. Testimoni pegawai, foto apa adanya dari lapangan, dan cerita pelanggan yang tidak dipoles biasanya lebih dipercaya daripada materi resmi.
Melarang sesuatu sering memperbesar perhatiannya. FIFA melarang Merlin masuk stadion, dan berita itu justru meluas. Dalam komunikasi krisis, upaya menekan cerita hampir selalu memperpanjang umurnya.
Beri ruang bagi suara yang tidak dikendalikan. Organisasi yang hanya mengizinkan pernyataan resmi kehilangan sumber kredibilitas yang tidak bisa dibeli.
Batas yang perlu dijaga
Keaslian tidak berarti tanpa persiapan. Yang perlu dihapus adalah kesan dibuat-buat, bukan kesiapan materinya. Perusahaan yang meniru gaya spontan tanpa substansi akan terbaca sebagai sedang berakting.
Pertanyaan yang layak diajukan tim komunikasi adalah sederhana. Jika pesan ini beredar tanpa logo perusahaan, apakah orang masih mau membagikannya?
Gambar: Mallard Drake on Seedskadee National Wildlife Refuge oleh USFWS Mountain-Prairie, lisensi domain publik, via Wikimedia Commons. Foto bersifat ilustratif.




Leave a Reply