Tidak Ada Juru Bicara yang Benar-Benar Netral

Tidak Ada Juru Bicara yang Benar-Benar Netral

Tidak Ada Juru Bicara yang Benar-Benar Netral

Banyak organisasi berharap juru bicaranya tampil netral. Harapan itu masuk akal, sebab siapa pun yang berbicara di forum resmi sedang membawa nama lembaga, bukan hanya nama sendiri. Persoalannya, netralitas seratus persen tidak pernah benar-benar tercapai. Pilihan contoh kasus, urutan penyajian, sampai kata sifat yang dipakai untuk menggambarkan pesaing atau mitra, semuanya menyimpan pandangan hidup orang yang sedang berdiri di depan.

Nilai Pribadi yang Ikut Masuk ke Ruang Rapat

Seorang manajer yang memimpin rapat besar tidak datang sebagai lembaran kosong. Ia membawa masa kecilnya, pendidikan yang pernah ditempuhnya, bahan bacaan yang dikonsumsinya bertahun-tahun, dan kepribadian bawaan yang tidak bisa ia tanggalkan di pintu masuk. Semua itu mengendap menjadi seperangkat keyakinan, lalu bocor ke dalam presentasi lewat penekanan suara, lewat siapa yang ia sebut lebih dahulu, dan lewat isu mana yang ia anggap layak dibahas.

Pekerjaan organisasi bukan menghapus kebocoran itu, sebab yang mustahil tidak perlu dilatihkan. Yang perlu dibangun adalah kemampuan mengendalikan dan memanfaatkannya. Perlu diingat pula bahwa lembaga yang juru bicaranya terdengar kosong dan tanpa pendirian jarang dipercaya publik. Audiens membedakan dengan cukup tajam antara sikap yang dikelola dan sikap yang tidak ada sama sekali.

Pandangan sebaliknya juga punya dasar dan sebaiknya tidak diabaikan. Pada situasi krisis, pada forum arbitrase, atau ketika lembaga sedang diperiksa otoritas, menahan seluruh preferensi pribadi memang bagian dari tanggung jawab jabatan. Perbedaannya terletak pada kesadaran: netralitas di situ adalah peran yang sengaja dipilih, bukan bukti bahwa pembicaranya tidak punya keyakinan.

Empat Hal yang Dapat Diterapkan Organisasi

Petakan keyakinan pembicara sebelum menyusun materi. Dalam pelatihan internal, mintalah calon pembicara menuliskan keyakinan yang paling sering mewarnai cara ia memandang isu yang akan dibawakan. Keyakinan yang sudah dikenali jauh lebih mudah dikelola daripada keyakinan yang bekerja tanpa disadari.

Kenali komposisi audiens sebelum menentukan kadar. Bila mayoritas pendengar berangkat dari nilai yang sama, pembicara dapat menyampaikan sikapnya dengan tegas. Bila mayoritas berbeda, nadanya perlu dilunakkan dan diberi fakta penyeimbang agar mereka tidak menarik diri atau berbalik memusuhi lembaga. Kalimat “Orang yang terlalu religius akan mudah dimanipulasi oleh ajaran agama yang ekstrem” akan terdengar menyerang di banyak forum di Indonesia. Bentuk yang lebih dapat diterima berbunyi: “Saya sendiri terkadang cukup religius, tetapi saya selalu waspada apabila ada masukan yang sudah terlalu ekstrem, walaupun katanya ada dalil agamanya.” Gagasannya tidak berubah, namun pembicara kini berdiri bersama pendengarnya.

Sediakan angka dan data sebagai penyeimbang. Fakta berbasis angka relatif tidak terpengaruh ideologi mana pun, sehingga berfungsi sebagai lantai bersama. Pemangku kepentingan yang tidak sepakat dengan sikap lembaga tetap memiliki pijakan yang bisa mereka terima, dan pembahasan tidak berubah menjadi pertarungan keyakinan.

Jaga agar pesan utama tidak tenggelam. Kegagalan paling mahal bagi sebuah organisasi adalah ketika audiens pulang mengingat sikap pribadi pembicaranya, lalu melupakan kebijakan atau keputusan yang justru ingin disampaikan. Uji sederhana sebelum acara: minta satu orang di luar tim menyebutkan kembali inti pesan setelah mendengar gladi bersih.

Menutup

Melatih pembicara organisasi bukan berarti melatih mereka menjadi tanpa warna. Yang lebih realistis dan lebih berguna adalah melatih mereka mengenali warna yang mereka bawa, mengukur seberapa banyak warna itu boleh keluar di hadapan audiens tertentu, dan memastikan pesan lembaga tetap yang paling diingat setelah acara berakhir.

Gambar ilustrasi: seorang pembicara menyampaikan paparan di forum resmi sebuah lembaga, oleh Werner Pfennig, lisensi Pexels melalui Pexels. Foto ini bersifat ilustratif dan bukan dokumentasi kegiatan yang dibahas.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *