
Ada satu keyakinan yang diam-diam melumpuhkan banyak pemimpin dan akademisi Indonesia ketika harus berbicara di forum internasional, yaitu keyakinan bahwa mereka harus terdengar seperti penutur asli agar dianggap layak. Keyakinan itu tidak hanya melelahkan, tetapi juga keliru menurut penelitian yang sudah mapan selama dua dekade terakhir.
Dua Prinsip yang Bertentangan
John Levis, dalam artikelnya di TESOL Quarterly tahun 2005 berjudul Changing contexts and shifting paradigms in pronunciation teaching, memberi nama pada dua pendekatan yang selama ini bertentangan dalam pengajaran pelafalan.
Yang pertama disebut Prinsip Kenatifan atau Nativeness Principle. Prinsip ini menuntut pemelajar mencapai pelafalan setara penutur asli. Levis mencatat bahwa target itu hampir mustahil dicapai oleh pemelajar dewasa, dan yang lebih penting, tidak diperlukan untuk komunikasi yang efektif.
Yang kedua disebut Prinsip Keterpahaman atau Intelligibility Principle. Prinsip ini menempatkan keterpahaman sebagai tujuan, bukan kemiripan dengan penutur asli. Levis kemudian berargumen bahwa prinsip kedua lebih unggul, dan mencatat tiga temuan yang layak diingat baik-baik. Pertama, komunikasi dapat berlangsung sangat berhasil sekalipun aksen asing terdengar jelas atau bahkan kental. Kedua, tidak ada kaitan yang jelas antara kekentalan aksen dan tingkat pemahaman pendengar. Ketiga, dan ini yang paling berguna secara praktis, hanya jenis kesalahan tertentu yang berpengaruh besar terhadap kemudahan dipahami.
Kalimat ketiga itu mengubah seluruh strategi latihan. Bila hanya sebagian kesalahan yang benar-benar merusak pemahaman, maka usaha latihan sebaiknya dipusatkan pada bagian itu saja, bukan disebar merata ke seluruh sistem bunyi bahasa Inggris.
Bagian Mana yang Benar-Benar Menentukan
Di sinilah kerja Jennifer Jenkins tentang Lingua Franca Core menjadi sangat praktis. Jenkins meneliti komunikasi antarpenutur yang sama-sama bukan penutur asli, lalu memilah ciri pelafalan mana yang benar-benar dibutuhkan agar keduanya saling paham, dan mana yang ternyata tidak berpengaruh.
Yang menurut Jenkins termasuk inti dan perlu diperhatikan antara lain ketepatan sebagian besar bunyi konsonan, dengan pengecualian menarik pada bunyi th, yaitu konsonan pada kata think dan this, yang ternyata tidak menentukan keterpahaman. Berikutnya adalah panjang vokal sebelum konsonan akhir, yang membedakan pasangan seperti bit dan beat. Dan yang terakhir adalah penempatan tekanan utama dalam kelompok tutur, terutama untuk menandai kontras dan penekanan.
Sebaliknya, sejumlah hal yang selama ini banyak dilatihkan justru dinilai tidak menentukan, antara lain bunyi th tadi, pergeseran kecil kualitas vokal, pilihan nada intonasi, penyederhanaan gugus konsonan di akhir kata, penggunaan vokal penuh alih-alih vokal tereduksi, dan ritme yang berbasis suku kata alih-alih berbasis tekanan.
Bagi penutur Indonesia, daftar itu adalah kabar baik yang jarang disampaikan. Ritme bahasa Indonesia memang berbasis suku kata, dan kecenderungan itu terbawa ketika berbahasa Inggris. Menurut kerangka ini, kecenderungan tersebut bukan prioritas. Yang justru perlu diperhatikan adalah panjang vokal dan letak tekanan utama, dua hal yang jarang sekali diajarkan di kelas bahasa Inggris di Indonesia.
Sudut pandang penyeimbang perlu disebut. Kerangka Lingua Franca Core tidak diterima tanpa perdebatan. Sebagian ahli menilai daftar inti itu terlalu menyederhanakan dan kurang memperhitungkan konteks ketika lawan bicara justru penutur asli. Levis sendiri, dalam tulisan yang lebih baru, mengakui adanya konsekuensi sosial nyata dari perbedaan pelafalan, yang berarti aksen memang dapat memengaruhi penilaian orang meskipun tidak memengaruhi pemahaman. Karena itu kerangka ini sebaiknya diperlakukan sebagai penentu prioritas latihan, bukan sebagai izin untuk berhenti memperbaiki diri.
Empat Langkah Praktis untuk Pemimpin dan Akademisi
Pertama, perbaiki panjang vokal sebelum konsonan akhir. Latih pasangan minimal seperti ship dan sheep, full dan fool, serta bit dan beat. Ini pekerjaan beberapa jam, bukan beberapa tahun, dan pengaruhnya pada keterpahaman langsung terasa.
Kedua, kuasai penempatan tekanan utama. Ambil satu paragraf naskah pidato Anda, lalu tandai satu kata pada setiap kelompok tutur yang membawa informasi paling baru. Ucapkan kata itu sedikit lebih panjang, sedikit lebih tinggi, dan sedikit lebih keras. Ini penunjuk arah paling kuat yang dimiliki bahasa Inggris.
Ketiga, turunkan kecepatan bicara secara sadar. Penelitian menunjukkan laju sekitar 140 sampai 160 kata per menit nyaman untuk presentasi, sementara materi teknis yang rumit lebih baik disampaikan pada 110 sampai 130 kata per menit. Perlu ditekankan bahwa berbicara lebih cepat tidak membuat pesan lebih meyakinkan, tetapi menurunkan pemahaman. Kecepatan adalah satu-satunya variabel yang dapat Anda ubah malam ini juga.
Keempat, berhenti meminta maaf atas aksen Anda. Kalimat pembuka seperti Sorry for my bad English menurunkan kredibilitas Anda sebelum isi disampaikan, dan menurut temuan Levis, dasarnya pun keliru karena aksen tidak berkorelasi jelas dengan pemahaman. Bila Anda memang ingin memberi tanda, gunakan kalimat yang mengarahkan kerja sama, bukan yang meminta belas kasihan, misalnya Please stop me at any point if you would like me to repeat something.
Yang Sesungguhnya Dinilai Audiens Internasional
Pengalaman di forum akademik dan korporat internasional menunjukkan pola yang konsisten. Audiens mengingat kejelasan struktur, ketepatan istilah teknis, dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan tepat sasaran. Aksen jarang menjadi bahan pembicaraan, kecuali bila kesalahan pelafalan menyebabkan kesalahpahaman istilah kunci. Justru di situlah letak prioritasnya, yaitu memastikan istilah kunci bidang Anda dilafalkan dengan panjang vokal dan tekanan yang tepat, bukan menghaluskan seluruh sistem bunyi.
Langkah Berikutnya
Bagi lembaga yang menyiapkan pimpinan, dosen, atau tim untuk forum internasional, penyusunan program yang berfokus pada prioritas keterpahaman jauh lebih efisien daripada kursus bahasa Inggris umum. EDUTRANS.ID merancang pelatihan komunikasi dan kepemimpinan korporat yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tersebut, termasuk penyiapan presentasi dan pidato berbahasa Inggris. Informasinya tersedia di edutrans.id.
Bila Anda ingin mengetahui lebih dahulu di dimensi mana kemampuan Anda sudah kuat dan di mana yang masih tertinggal, SPEAK AUDITOR menganalisis rekaman berdurasi tiga menit dan mengeluarkan profil sembilan dimensi kompetensi beserta skor terukur. Titik awal yang objektif membuat latihan berikutnya jauh lebih terarah. Selengkapnya di speakauditor.com.
Rujukan: Levis, J. M. (2005). Changing contexts and shifting paradigms in pronunciation teaching. TESOL Quarterly, 39(3), 369 sampai 377. Kerangka Lingua Franca Core dikembangkan oleh Jennifer Jenkins.
Gambar ilustrasi: 2007Computex PressConference oleh Rico Shen, lisensi CC BY-SA 3.0 melalui Wikimedia Commons. Foto ini bersifat ilustratif.




Leave a Reply